telusuri


Monday, March 22, 2010

KEJAR PRESTASI DUNIA, GEMBLENG ATLIT DI KANDANG MILITER.

Akademi Militer (Akmil) Magelang kini tak hanya menggembleng taruna TNI-AD. Sejak 15 April lalu, ada skuad baru yang turut berlatih di sana. Mereka adalah para pemain pelatnas pratama bulu tangkis. Apa bedanya dengan Pelatnas Cipayung?

Bellaetrix Manuputty begitu gembira saat diminta memperlihatkan kerapian kamarnya di salah satu Wisma Maessonet Akademi Militer (Akmil), Lembah Tidar, Magelang, Jawa Tengah, Jumat siang lalu (5/6). Tak tampak rasa capai meski baru saja melakoni latihan fisik yang tidak ringan. Porsinya 10 kali lari dengan jarak 200 meter, 8 kali 400 meter, dan 5 kali 800 meter. "Kamar itu memang untuk dipamerkan. Ayo, masuk saja," ujar Bella, sapaan karib Bellaetrix Manuputty, bersemangat sembari mengajak masuk ke kamar berukuran 6x10 meter itu.

Dia tak sendirian. Dua rekannya sesama pemain juga menempati ruang yang terletak di lantai dasar bangunan tersebut, yakni Tieke Arieda dan Siti Anida. "Tapi, maaf, jangan duduk di atas tempat tidur. Nanti kusut lagi dan saya harus merapikannya kembali," imbuhnya.
Kekhawatiran Bella cukup beralasan, sebab bisa saja tiba-tiba kamarnya diperiksa oleh salah satu pembinanya. Tak perlu banyak omong, seprei yang tak rapi akan ditarik sampai lepas. Kemudian pemilik wajib merapikannya sampai licin.

Tak hanya mewajibkan kerapian yang tampak di luar, kondisi dalam lemari pakaian pun harus diatur sedemikian rupa agar sedap dipandang. Kaus-kaus wajib dilipat hingga memberikan penampakan selebar 20 cm, tanpa boleh ada yang keliru.

Begitu pula celana, kaus kaki, dan kosmetik diatur penempatannya. Jika pintu lemari lain dibuka, akan tampak sama persis susunannya. Semua serba teratur.
Itu baru sebagian kecil. Para pemain bulu tangkis yang didominasi hasil seleksi nasional Februari lalu itu juga wajib tampil rapi sampai pada hal-hal kecil. Termasuk potongan rambut yang harus cepak bagi pemain pria dan potong pendek bagi wanita.

Bukan hanya itu. Ada juga pelajaran Pendidikan Urusan Dinas Dalam (PUD) yang antara lain berisi materi kerapian lipatan baju, kerah, tali sepatu, dan lain-lain.
Kondisi seperti itu tak akan ditemui di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, markas Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) yang digunakan untuk menggodok para pemain pelatnas utama.

Ya, kerapian memang menjadi salah satu kewajiban Bella dan 38 pemain bulu tangkis pelatnas pratama yang "dititipkan" di Akmil Magelang sejak 15 April lalu. Para pemain juga wajib mencuci pakaian sendiri. Sehari bisa dua sampai tiga kali mencuci. "Satu kali latihan saja kami bisa menghabiskan 4-5 kaus. Persediaan kaus di sini terbatas, jadi memang harus sering-sering mencuci. Lagi pula, kalau sampai kelihatan tidak rapi, bisa-bisa pakaiannya dilempar keluar. Kami juga yang malu," ungkap Bella.
Kondisi itu jelas berbeda dengan para pemain Pelatnas Cipayung yang tinggal lempar baju ke keranjang pakaian kotor.

Uniknya lagi, meski wajib rapi, mereka tak dibekali setrika. "Jadi, seperti zaman dahulu saja, baju yang sudah dilipat ditaruh di bawah bantal," ujar pemain yang sempat merasakan nikmatnya Pelatnas Cipayung mulai 2007 tersebut.

Kerapian mereka tak hanya diuji di dalam kamar. Mulai bangun sampai tidur lagi, semua meniru kebiasaan taruna Akmil. Pukul 05.30 mereka dibangunkan dengan bunyi sangkakala. Pukul 05.00 mereka mengikuti senam pagi sebagai kegiatan pembuka. Setelah mandi dan beres-beres, makan pagi dimulai pukul 06.00. Lagi-lagi kerapian benar-benar diterapkan saat makan. Berpakaian rapi dan bersepatu menjadi kewajiban. Posisi duduk wajib tegak dengan jarak kursi dan meja sudah diatur. Patokannya ubin di lantai. Tidak diperbolehkan melebihi batas tertentu.

Apel pagi pukul 06.45 menandai dimulainya kegiatan belajar. Para pemain itu sudah disambut pelatih di GOR Suroto untuk yang melakoni latihan teknik dan GOR Sapta Marga yang mendapat jatah latihan fisik. Latihan fisik dibimbing pelatih dari Akmil.

Biasanya latihan dibagi dalam dua kelompok, sektor tunggal dan ganda, dengan ditangani pelatih masing-masing. Pemain ganda dipoles Bambang Supriyanto, sedangkan nomor tunggal dipoles Ronny Agustinus. Keduanya mantan pemain nasional.

Pukul 12.00 latihan disudahi dan dilanjutkan apel siang. Kemudian pukul 13.00 mereka mendapatkan jatah makan siang. Setelah itu mereka mendapat waktu istirahat. Biasanya waktu inilah yang digunakan Bella dkk untuk mencuci pakaian. Jika bisa cepat selesai, mereka akan mendapatkan kesempatan istirahat. Namun, jika tidak, jangan harap dapat mengistirahatkan mata. Maklum jadwal latihan kembali menanti mulai pukul 15.00. Jadwalnya bergantian.
Jika pada pagi mendapatkan latihan fisik, sorenya berlatih teknik. Cukup dua jam porsi latihan sore. Pukul 18.30 mereka sudah harus berada di meja makan. Sesudahnya, jika tak ada kegiatan keagamaan, para pemain digiring ke GOR lagi. Latihan dilanjutkan. "Kalau mikir capai, pasti capai banget. Hanya, memang tidak ada waktu untuk memikirkan rasa capai itu. Mending langsung tidur kalau ada waktu kosong," ujar Bella yang diiyakan rekan-rekannya.
Beruntung, Sabtu-Minggu mereka mendapatkan jatah libur layaknya para taruna akmil. Namun liburannya hanya di sekitar Magelang.

Bella yang besar di PB Jaya Raya Jakarta itu paham bahwa Magelang merupakan kota kecil yang sangat kontras dengan ibu kota. Tak ada pusat perbelanjaan besar ataupun tempat-tempat nongkrong seperti saat dia masih di Ragunan, asrama Jaya Raya atau Cipayung.
Pernah saat libur akhir pekan mereka dibawa ke Yogyakarta. Yang menggelikan, banyak di antara pemain merasa takjub melihat keramaian salah satu mal di Malioboro. Seolah sudah lama benar tak merasakan keramaian kota. "Awalnya saling menertawakan teman-temannya, kok kayaknya ndeso banget," terang Bella.

Namun libur Sabtu-Minggu itu tetap digunakan seoptimal mungkin oleh para pemain. Ini terutama untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman melalui internet atau telepon.
Seluruh pemain pelatnas pratama memang dilarang membawa telepon genggam sampai satu bulan tinggal di sana. Baru pertengahan Juni lalu mereka diberi kesempatan memegang telepon genggam masing-masing pada Sabtu dan Minggu. "Ternyata tak masalah juga tidak membawa handphone," imbuhnya.

Mayjen TNI Sabar Yudo Suroso, gubernur Akmil, sengaja memberikan tempat bagi pemain pelatnas bulu tangkis di sana. Maklum, ketua umum PB PBSI saat ini juga dijabat Panglima TNI Djoko Santoso. Sabar berharap para pemain itu bisa memiliki kedisiplinan ala TNI.
Kedisiplinan memang menjadi persoalan krusial para pemain saat ini. Dengan predikat pemain dunia, banyak di antara mereka yang tidak memiliki disiplin tinggi kepada diri masing-masing. Pola makan, tidur, dan latihan sering tidak sesuai dengan program pelatih. "Tidak ada kata lain, para pemain pelatnas pratama harus mengikuti aturan taruna di dalam Akmil ini. Tugas mereka tidak ringan, wajib membawa pulang piala-piala yang sudah tak diperoleh lagi oleh Indonesia akhir-akhir ini," tegas Sabar yang juga hobi bulu tangkis itu.

Setelah 1,5 bulan menghuni Akmil, banyak perubahan disiplin pada diri pemain. Salah satunya mereka akan menjawab "siap" saat dipanggil oleh siapa pun. Coba saja jika bertemu Bella atau yang lain. Jawaban yang sama juga dilakukan para anggota TNI jika dipanggil atasannya.
Dua minggu pertama, banyak pemain yang belum bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan Akmil. Misalnya, lupa merapikan tempat tidur atau menaruh barang sekenanya. Kalau sudah seperti itu, hukumannya adalah push-up untuk seluruh pemain. Tandanya cukup mudah. Bila saat baris mereka diminta serong kanan, berarti ada yang berbuat salah dan akan ada hukuman push-up. Tidak banyak. Cuma 15 kali.

Setelah enam bulan, para pemain akan dievaluasi. Jika dianggap masih butuh lingkungan Akmil, mereka tetap tinggal di Magelang. Tapi jika dianggap cukup, mereka dikembalikan ke Pelatnas Cipayung.

1 comment:

  1. kok ternyata jadi seorang atlit th susah jga yh,padahal akyu ingin bgt jdi atlit bultang,tpi akyu tdk pntng mnyrh krna itu cita-cita RISKA.brarti kak MARIA hbt bgt cuy wlwpn lgi cedra tpi kak maria ttp brsh utk mnghrmkn nm INDONESIA

    ReplyDelete